
Ramadhan Bersama Anak Anak Pejuang Kesembuhan
terkumpul dari target Rp 70.000.000
Bulan Ramadhan adalah bulan di mana umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Di bulan yang penuh keberkahan ini, setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Kedatangan Ramadhan selalu dinantikan oleh setiap mukmin, karena di dalamnya terbentang begitu banyak pintu keutamaan dan rahmat dari Allah SWT.
Salah satu pintu kebaikan terbesar di bulan Ramadhan adalah sedekah.

Namun, di tengah suasana Ramadhan yang seharusnya dipenuhi tawa dan keceriaan, ada anak-anak kecil yang tidak menjalani hari-harinya dengan bermain. Sebagian dari mereka justru menghabiskan Ramadhan di ruang perawatan rumah sakit, berjuang melawan kanker dan penyakit berisiko tinggi lainnya.
Di usia yang seharusnya dipenuhi cerita sederhana dan mimpi kecil, anak-anak pejuang ini lebih dulu mengenal rasa sakit. Jarum suntik, obat-obatan, ruang perawatan, dan air mata menjadi bagian dari keseharian mereka. Dalam diam, mereka sering bertanya:
“Apakah aku bisa sembuh?”
“Apakah aku masih bisa bermain seperti anak-anak lainnya?”
Zian Alfarizky – Pejuang Malformasi Limfatik

Kelainan pada lidah Zian mulai terlihat beberapa bulan setelah ia lahir. Awalnya hanya berupa benjolan kecil, hingga suatu hari darah mengalir deras dari bawah lidahnya saat ia disuapi.
Zian divonis mengidap tumor lidah yang terus membesar hingga keluar dari mulutnya. Ia telah menjalani berbagai tindakan medis, mulai dari pemasangan alat bantu napas hingga pemotongan lidah. Pengobatan panjang telah ia lalui, namun perjuangannya belum usai. Saat ini, Zian harus mengonsumsi obat-obatan yang tidak tercover BPJS dan tetap rutin menjalani pengobatan demi bertahan hidup.
Rendra – Pejuang Crouzon Syndrome

“Jika tidak segera dioperasi, otaknya tidak akan berkembang dan penglihatannya bisa hilang.”
Di usia 4 tahun, Rendra telah memikul perjuangan yang mungkin tak sanggup ditanggung sebagian orang dewasa. Ia lahir dengan Crouzon Syndrome, disertai kraniosinostosis dan hipoalbumin, yang membuat bentuk kepalanya tidak berkembang normal.
Rendra harus dirujuk ke Jakarta untuk menjalani operasi besar perbaikan tempurung kepala—operasi yang menentukan masa depan hidupnya.
Saat hari operasi tiba, keluarga Rendra hanya memiliki Rp50.000 di tangan. Jumlah yang bahkan tak cukup untuk ongkos pulang. Namun demi Rendra, mereka tetap melangkah, berhutang ke bank, menjual perabot rumah, dan bertahan di tengah kecemasan agar anak kecil mereka bisa terus berobat dan tetap memiliki harapan hidup.
Fauzi – Pejuang Osteosarcoma

Fauzi adalah anak kembar yang divonis mengidap kanker tulang ganas (osteosarcoma). Awalnya, ia hanya terjatuh saat bermain. Karena keterbatasan biaya, orang tuanya membawanya ke tukang urut, yang justru memperparah kondisinya.
Saat akhirnya dibawa ke rumah sakit, kanker telah menghancurkan tulang tangan kirinya. Fauzi harus menjalani amputasi dan kini rutin menjalani kemoterapi demi mempertahankan hidupnya. Masa kecilnya terenggut, namun semangatnya untuk bertahan tidak pernah padam.
Di bulan Ramadhan yang penuh rahmat ini, Yayasan Sahabat Ayah Sarah mengajak para sahabat untuk ikut serta dalam kegiatan buka bersama serta berbagi bingkisan Ramadhan bagi anak-anak pejuang kanker dan penyakit berisiko tinggi lainnya.
Kami mengajak Anda untuk berbagi kebahagiaan dan menghadirkan hadiah Ramadhan bagi para pejuang kesembuhan.

Sedekah Anda bukan sekadar bantuan biaya pengobatan, tetapi juga harapan, kekuatan, dan keyakinan bahwa mereka tidak berjuang sendirian.
Satu uluran tangan dari Anda adalah satu senyum yang kembali hadir. Satu doa yang terpanjat adalah satu harapan untuk masa depan mereka.
Mari jadikan Ramadhan ini saksi kebaikan kita. Mari peluk para pejuang kecil dengan kasih sayang dan kepedulian.
Ramadhan Bersama Anak Anak Pejuang Kesembuhan
terkumpul dari target Rp 70.000.000
