
“Tak pantas tukang rongsok jadi seorang ustadz…”
Sejak 7 tahun lalu, Kang Mahfudin (35) telah mengajar ngaji. Namun, di tempat ia dahulu mengajar, ia kerap mendapat fitnah, pengajiannya dianggap sesat, bahkan santrinya dituduh mencuri. Hinaan tak hanya datang dari masyarakat, tapi juga dari keluarga istrinya sendiri.
Meski begitu, ia tak pernah menyerah. Setelah kembali ke tanah kelahirannya di Baduy, ia tetap mengajar anak-anak mengaji. Tak ada iuran, tak ada bayaran, semua ia tanggung sendiri. Bahkan, ia berusaha membuat anak-anak senang dengan membelikan permen atau makanan kecil dari kantong pribadinya. Untuk para ibu-ibu, ia juga rutin mengadakan sholawatan.
Tapi kebutuhan hidup tak bisa hanya ditopang dengan keikhlasan. Tak ada gaji sebagai guru ngaji, sementara listrik tetap harus dibayar, perut anak-istri tetap harus terisi. Ia harus menghilangkan gengsi saat banyak orang mencibir, “Tak pantas seorang ustaz jadi tukang rongsok”.
Hasil rongsok yg ia kumpulkan biasanya dihargai 2000/kilo saja, namun kalau ia sortir dan bersihkan terlebih dahulu bisa mencapai 4000/kilo. Hasil yang tak seberapa, seringkali tak cukup untuk penuhi kebutuhannya dengan anak dan istri. Terlebih jika hujan menjadi tantangan besar untuknya, bukan hanya menghambat pencarian, tapi juga seringkali membuatnya pulang dengan tangan kosong.
Meski hidupnya berat, Kang Mahfudin tak pernah kehilangan harapan. Baginya, mengaji bersama murid-murid adalah kebahagiaan yang tak tergantikan. Ia hanya ingin kehidupan yang lebih baik, agar tak perlu memilih antara berbagi ilmu dan mencari sesuap nasi. Ia berharap bisa membuka warung kelontong untuk menambah kebutuhan ia dan keluarganya.
Teman berbagi, bantu berikan modal usaha untuk Kang Mahfudin penuhi kebutuhan sehari-harinya dengan keluarga dan tetap bisa mengajar, yuk! Setiap rupiah yang kita berikan akan meringankan beban seorang guru yang begitu tulus mengabdikan dirinya.
