
Darurat! Kampung Mualaf Pelosok Butuh Dai
terkumpul dari target Rp 150.000.000
Indonesia dikenal sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbanyak di dunia. Namun pada kenyataannya, penyebaran nilai-nilai dan ajaran Islam belum sepenuhnya merata. Kondisi ini terlihat di wilayah rentan bagian 3T: (terdepan, terpencil dan tertinggal).
Memang, berdakwah di daerah pedalaman bukanlah perkara mudah. Setiap wilayah memiliki tantangannya tersendiri, mulai dari jarak tempuh yang jauh, hingga keterbatasan akses dan fasilitas yang belum memadai.
Seperti kisah Mama Al, salah satu guru ngaji di Masjid At-Tauhid, Kampung Baru, Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Beliau sudah mengabdi sekitar dua tahun. Tanpa lelah, ia menempuh jauhnya perjalanan, menyusuri keterbatasan demi menyalakan cahaya iman di pelosok negeri yang jarang sekali tersentuh oleh banyak orang.

“Jika bukan saya, belum ada lagi yang mengajar di kampung ini,” Ujarnya.
Mama Al bercerita, sering kali orang datang dengan niat mengajar ngaji di kampung ini, namun kebanyakan dari mereka tidak bertahan lama. Bahkan, ada yang hanya datang untuk sekedar mengambil dokumentasi lalu pergi begitu saja. Miris..
Padahal, kampung ini dikenal sebagai Kampung Mualaf. Namun karena tidak adanya Dai, kondisi mereka sungguh memprihatinkan. Banyak yang masih buta huruf Al-Qur’an. Untuk sekedar mengetahui gerakan shalat pun mereka belum memahami.

“Saya saksinya mereka betul buta waktu itu, sampai ada nenek yang kondisinya sudah sakit berpesan: satu yang saya syukuri karena saya sudah tahu huruf hijaiyyah dari Alif sampai Ya,” Kata Mama Al dengan mata berkaca-kaca.
Mirisnya lagi, ada seorang muslim yang bahkan hanya mengenali satu huruf hijaiyyah saja: Alif. Ya Allah, betapa besar kebutuhan mereka akan bimbingan. Jauh dilubuk hati para mualaf, mereka sangat ingin belajar lebih dalam tentang ajaran Islam. Namun, belum ada yang benar-benar setia mau mendampingi.
Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Mama Al memilih untuk mengabdi sebagai guru ngaji tanpa menerima gaji sedikitpun. Ia bertahan, mengajar di pelosok yang sangat jauh dari jangkauan, dengan akses medan yang sulit dan penuh tantangan.

Mama Al bersyukur, selama ia mengajar ngaji di kampung tersebut, anak-anak menunjukkan kecerdasan. Alhamdulillah, sudah ada dua orang yang berhasil ditamatkan, meski di awal mereka sempat berkata, “Susah sekali, Ibu,”.
“Demi Allah, saya cuman bilang: Al-Quran itu mukjizat, pintarnya kita sekalipun seorang kiyai mungkin kalau memang Allah tidak mau pahamkan kita, tidak pernah tau namanya Al-Quran, Alhamdulillah mereka tau Al-Quran bukan karena saya, tapi karena Allah yang pahamkan mereka,” Ujar Mama Al.

Sobat Masjid, sungguh, dedikasi seperti inilah yang menjadi nadi kehidupan dakwah di pelosok negeri, karena sejatinya, menebar dakwah adalah kewajiban setiap Muslim. Masjid Nusantara terus berikhtiar melalui para Dai, agar syiar Islam tetap hidup dan menjangkau seluruh pelosok Nusantara. Biarlah para dai fokus mengajar dan membina, sementara kita menopang perjuangan mereka.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim). Semoga di setiap huruf yang diajarkan, setiap sholat yang diperbaiki, setiap doa yang terlantun ; insyaAllah menjadi pahala yang terus mengalir.
Yuk, bantu perjuangan para Dai pelosok dengan sedekah terbaikmu.
Klik ‘Bantu Sekarang’
Darurat! Kampung Mualaf Pelosok Butuh Dai
terkumpul dari target Rp 150.000.000
