
Bantu Ibu Daryati Berjuang Demi Masa Depan Anaknya
terkumpul dari target Rp 60.000.000
Bu Daryati bukan hanya seorang ibu, tapi juga satu-satunya harapan bagi tiga anaknya. Setiap hari, ia berjuang sendirian, menapaki kerasnya hidup tanpa suami di sisinya. Tak ada tangan yang menggenggamnya saat ia lelah, tak ada pundak yang bisa disandari ketika air matanya jatuh. Namun, ia tak punya pilihan selain terus berjalan, meski jalannya terjal dan penuh luka.
"Saya kerja ambil daun cengkeh, sehari paling dapat 15 sampai 25 ribu," ucapnya. Jumlah yang bahkan tak cukup untuk sekadar membeli LKS anaknya, apalagi memastikan mereka makan dengan layak. Kadang, di rumah panggung kecilnya yang nyaris roboh, ia hanya bisa memasak nasi dengan garam atau rebusan daun singkong untuk anak-anaknya.
Caca dan Engkus, dua anaknya yang masih sekolah, sering harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer karena tak ada uang untuk ongkos atau bekal. Pernah suatu hari, mereka menangis diam-diam di kelas karena perut kosong, tapi tetap bertahan agar tak ketinggalan pelajaran. Namun, ada hari-hari di mana mereka menyerah, memilih diam di rumah karena tak sanggup menahan lapar saat belajar.
Sementara itu, Rosandi, si bungsu, sejak bayi sudah terbiasa ikut bekerja, digendong ibunya saat mencari daun cengkeh di tengah terik. Tak jarang, tangisnya pecah di tengah hutan cengkeh, membuat Bu Daryati harus berhenti sejenak, mengusap wajah kecil itu dengan jemari yang kapalan, menenangkan dengan bisikan penuh kasih sayang, padahal hatinya sendiri rapuh dan lelah.
Namun beban hidup Bu Daryati tak hanya soal ekonomi. Ia telah kehilangan dua suami karena maut, dan suami terakhirnya pergi meninggalkannya ketika ia sedang hamil 8 bulan. "Rosandi gak pernah lihat wajah bapaknya,"
Caca dan Engkus pun tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang seorang ayah.
Kini, Bu Daryati hanya bisa bertahan dengan tenaga yang tersisa, menggendong dua karung besar daun cengkeh di punggung, sambil menahan perihnya hidup yang terus menguji. Cuaca panas atau hujan deras bukan lagi halangan, karena jika ia berhenti, anak-anaknya tidak makan. Jika ia menyerah, tak ada lagi yang bisa mereka harapkan.
Di rumah panggungnya yang sudah lapuk, dengan atap bocor dan lantai rapuh, Bu Daryati hanya punya satu harapan, bisa melihat anak-anaknya sekolah, tumbuh sehat, dan menjalani hidup yang lebih baik.
Yuk kita jadi bagian dari harapan itu? Membantu Bu Daryati dan anak-anaknya bertahan, setidaknya untuk hari esok yang lebih baik?

Bantu Ibu Daryati Berjuang Demi Masa Depan Anaknya
terkumpul dari target Rp 60.000.000