
Bantu Lansia Tubuh Penuh Benjolan Merongsok Demi Cucu
terkumpul dari target Rp 60.000.000
Seumur hidupnya, Abah Ramin hidup dengan penyakit langka. Benjolan-benjolan di tubuhnya sudah muncul sejak ia berusia 17 tahun. Bukan cuma sakit, tapi juga jadi bahan ejekan. Dulu Abah sempat bertanya-tanya, "Apa ini kutukan?" Tapi sekarang, Abah sudah berhenti bertanya. Abah sudah ikhlas.
Yang lebih berat dari penyakitnya adalah hidup yang harus terus ia jalani. Di usia 80 tahun, Abah masih harus bekerja. Setiap hari, sejak subuh hingga sore, Abah keliling memungut barang bekas. Semata-mata hanya untuk bertahan hidup.
Tapi hidup seperti ini… apakah layak untuk Abah?
Rumah yang ditempatinya hanya kontrakan tua dengan dinding berlubang. Beberapa bagian ditambal kardus bekas. Kalau hujan deras, bocor di mana-mana. Setiap pagi, Abah harus mengganti kardus yang basah, supaya rumahnya tetap bisa ditempati.
Yang lebih menyakitkan lagi, anak-anak Abah pergi meninggalkannya. Tapi sebelum pergi, mereka menitipkan dua cucu kecil untuk Abah rawat. Sekarang, di usia setua ini, Abah masih harus memikirkan makan dua cucunya.
Uang yang didapat dari rongsok tak pernah cukup. Seringnya, Abah hanya bisa memberi makan cucu-cucunya nasi dan kerupuk, gak jarang hanya dengan royco saja. Bahkan, terkadang Abah rela tidak makan, asalkan cucunya bisa kenyang.
"Abah mah gampang… gak makan juga gak apa-apa… yang penting cucu bisa makan hari ini…"
Abah sudah terlalu banyak berjuang sendirian. Sekarang, saatnya kita yang bantu. Yuk, sisihkan sedikit rezeki untuk Abah dan cucu-cucunya.

Bantu Lansia Tubuh Penuh Benjolan Merongsok Demi Cucu
terkumpul dari target Rp 60.000.000