
Bantu Lansia Asma Terus Kerja 24 Jam di Danau
terkumpul dari target Rp 70.000.000
Setiap hari, Abah Udin bekerja tanpa henti selama 24 jam, berangkat sejak pukul 6 pagi dan baru pulang keesokan harinya di waktu yang sama. Ia duduk berjam-jam di atas perahu, menunggu ikan masuk ke jaring, sambil terus menguras air yang masuk karena perahunya sudah banyak bocor. Panas terik dan dinginnya malam bukan lagi hal baru baginya, semua ia tahan demi mencari nafkah.
Abah Udin sudah lama menderita asma akut, namun ia tetap harus bekerja. Jika tidak, keluarganya di rumah tidak akan bisa makan, dan ia pun tidak akan mampu membeli obat. Penyakitnya sering kambuh saat menjelang subuh, ketika udara sedang dingin-dinginnya—dadanya terasa sesak, batuk tak kunjung reda, namun ia tak punya pilihan selain bertahan.
Menyedihkan, bukan? Di usianya yang sudah menginjak kepala tujuh, seharusnya Abah Udin bisa menikmati masa tua dengan tenang—duduk di kursi goyang, menyeruput kopi atau teh hangat di rumah. Namun, kenyataannya jauh dari itu. Ia masih harus berjuang setiap hari, bekerja tanpa henti demi memastikan keluarganya bisa bertahan hidup.
Terkadang, merasa malu sendiri saat mengeluh tentang kelelahan. Jika dibandingkan dengan perjuangan Abah Udin, apa yang kita alami rasanya tak sebanding…
Mungkin kalian juga berpikir, "Kenapa tidak ditinggal saja jaringnya dan diambil keesokan harinya? Bukankah itu lebih menghemat tenaga daripada harus menunggu berjam-jam dan terus-menerus menguras air dari perahu?"
Kami pun punya pertanyaan yang sama. Namun, Abah Udin hanya tersenyum dan berkata,
"Abah juga maunya begitu, Den. Pasang jaring, pulang dulu, lalu besok tinggal diambil. Tapi waktu Abah coba beberapa kali, tiap pagi jaringnya selalu hilang... ada yang nyuri."
Abah juga pernah mengalami kejadian yang hampir merenggut nyawanya. Suatu ketika, perahunya yang bocor tidak lagi mampu menahan air, membuatnya tenggelam di tengah danau. Di lain waktu, karena terlalu lelah dan kedinginan di malam hari, asmanya tiba-tiba kambuh hingga membuatnya terjatuh.
Dengan penuh syukur, Abah berkata, "Alhamdulillah, selalu ada yang melihat Abah setiap kali kejadian seperti itu. Kalau tidak, entah Abah masih hidup atau tidak sekarang..."
Biasanya, Abah hanya mendapatkan 1 atau 2 kilo ikan, dan seringnya hanya 1 kilo yang dihargakan seharga Rp15 ribu saja. Perjuangan berat yang ia lalui seharian, namun hasilnya tak sebanding dengan kerja kerasnya.
Setelah itu, Abah masih harus kembali berjuang di rumah. Ia harus memberi makan dan merawat adiknya yang mengalami gangguan jiwa, tak ada waktu untuk beristirahat. Meski tubuhnya lelah, Abah tak pernah berhenti menjalani tanggung jawabnya.
#TemanKebaikan, sampai saat ini Abah Udin pun belum pernah jalani pengobatan karena keterbatasan biaya, padahal penyakit yang di deritanya kian hari kian memburuk. Maukah kamu bantu Abah bisa berobat dan penuhi kebutuhan sehari-harinya agar tak perlu lagi bekerja?
Halo #TemanKebaikan !
Lihat dan rasakan kebaikan dari kamu yang #BeneranBerdampak untuk semua di link berikut ini ya:)
https://sajiwafoundation.org/publications/sajiwa-news
Mengapa Sajiwa Foundation?
1. Pendampingan yang dilakukan merupakan bentuk Integrasi Kebutuhan Material dan Non Material
2. Memiliki Objektif pendampingan SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-Bound) yang disusun berdasarkan asesmen kebutuhan penerima manfaat.
3. Dijalankan dengan prinsip pertemanan yang menyenangkan.
4. Sajiwa Foundation terdaftar dan diawasi oleh Kemenkumham, Dinsos Kota Bandung dan Dinsos Jawa Barat.
5. Setiap bulan Sajiwa Foundation melaporkan Aktivitas Program dan Laporan Keuangan bulanan di laman website.
https://sajiwafoundation.org/
Jl. Atlas Raya No.21, Babakan Surabaya, Kec. Kiaracondong, Kota Bandung, Jawa Barat 40281
02220504715
Hubungi kami jika kamu ingin berkolaborasi lebih lanjut ke nomor resmi ini ya :)
085174166464

Bantu Lansia Asma Terus Kerja 24 Jam di Danau
terkumpul dari target Rp 70.000.000