
Relakan Masa Kecil dengan Jual Sapu Keliling Demi Sekol
terkumpul dari target Rp 70.000.000
Hilman dan Irma adalah kakak beradik yang berjuang bersama menjual sapu lidi hasil buatan mereka dan ibunya demi bisa bersekolah.
“Ayah udah meninggal, Kak. Sedangkan ibu di rumah harus jaga kakak aku yang sakit.. Kalo kita gak bantuin ibu, adik gak bisa sekolah..” ujar Irma, gadis kecil yang kutemui tadi.
Tanpa ayah, kondisi mereka semakin kesulitan. Kakak mereka yang bernama Herman yang ternyata memiliki keterbelakangan mental, sehingga tidak bisa ibu tinggalkan. Irma pun sebenarnya memiliki kondisi yang sama, namun tidak separah itu hingga ia ingin menemani adiknya, Hilman untuk berjualan.
“Aku juga pernah sekolah kak, tpai cuma sampe kelas 2 aja soalnya susah, jadi berhenti. Kata ibu aku harusnya gak sekolah disana..”
Ternyata, Irma berhenti sekolah karena ia belajar di Sekolah Luar Biasa. Namun Ibu tidak memiliki cukup biaya untuk Irma bersekolah.
Kini hanya Hilman yang bersekolah, itupun berbekal kaos kaki longgar yang sudah bolong dan sepatu yang jebol. Sepulang sekolahpun ia tidak bermain sebagaimana anak-anak pada umumnya. Namun ia harus segera berkeliling menjual sapu lidi yang telah ia buat bersama kakak dan ibunya.
Betul.. Mereka bahkan turut membantu Ibu untuk membuat sapu lidi. Karena ibu harus jaga Herman dan hanya kerja sebagai buruh tani atau pengumpul pakan ternak, mereka ingin mengurangi beban Ibu.
Sedih rasanya ketika Hilman berkata seperti ini, “Hilman pengen beli sepatu, Kak.. soalnya sudah jebol.. Tapi kata Ibu malah nangis pas Hilman bilang gitu..”
Bisa dipastikan, Ibu menangis karena merasa bersalah kepada anaknya. Jangankan membelikan sepatu baru, untuk membeli beras saja tak jarang mereka mencari warung yang bersedia dibayar berasnya dengan sapu lidi yang mereka jual.
Sungguh perjalanan hidup yang sangat berat untuk anak-anak seusia mereka. Teman Kebaikan, yuk kita bantu ringankan beban adik-adik kecil ini. Mereka hanya ingin bisa bersekolah dengan nyaman dan tidak khawatir soal makan di esok hari!
Mengapa donasi di Sajiwa Foundation?
- Pendampingan yang dilakukan merupakan bentuk Integrasi Kebutuhan Material dan Non Material
- Memiliki Objektif pendampingan SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-Bound) yang disusun berdasarkan asesmen kebutuhan penerima manfaat.
- Dijalankan dengan prinsip pertemanan yang menyenangkan.
- Sajiwa Foundation terdaftar dan diawasi oleh Kemenkumham, Dinsos Kota Bandung dan Dinsos Jawa Barat.
- Setiap bulan Sajiwa Foundation melaporkan Aktivitas Program dan Laporan Keuangan bulanan di laman website.

Relakan Masa Kecil dengan Jual Sapu Keliling Demi Sekol
terkumpul dari target Rp 70.000.000