
Ditinggal Suami tanpa Kabar Bantu Bu Asih Merawat Ani
terkumpul dari target Rp 150.000.000
"Ini udah jadi jalan takdir saya, berjuang merawat Ani sendirian." ungkap Bu Asih (63 tahun) kini merawat Ani sang anak tercinta seorang diri sebagai Asisten Rumah Tangga dengan penghasilan kurang dari 50 ribu setiap hari.
“sebenernya ngga cukup tapi dicukup-cukupin aja yang penting ada buat Ani beli obat sama terapi biar ngga kejang.”
Dik Ani (14 tahun) sudah divonis lumpuh otak dan epilepsi sejak usianya 1 tahun, selama itu juga lah sang ayah yang menjadi harapan menghilang menelantarkan mereka berdua padahal dik Ani yang sangat membutuhkan sosok seorang ayah ditengah perjuangan melawan sakitnya.
Karena penyakitnya pertumbuhan Ani sangat berbeda dengan anak sebayanya, diusianya 12 tahun saat ini tapi berbicara pun tidak bisa berjalan apalagi, pertumbuhannya hampir sama seperti bayi. Kini yang dibutuhkan Ani adalah obat agar kejangnya tidak sering kambuh, jika tidak dik Ani bisa kejang hingga 20 kali setiap hari, selain itu juga dik Ani harus menjalani terapi.
Seharusnya dik Ani mendapatkan terapi agar kondisinya bisa lebih baik. Tapi apa daya, kondisi sang ibu belum mampu dan tak memiliki BPJS. Namun, saat ini perlahan ani sudah bisa jalan.
Ibu Asih pernah berjualan sayuran keliling untuk menambah penghasilan, nahas gerobaknya dicuri. Ibu Asih termenung jalan lain ia bisa mengurus Ani pun kini direnggut darinya.
Seiring waktu kesehatan ibu Asih pun kian menurun, penyakit lambung yang sudah kronis dan jantung terus menggerogoti tubuh rentanya dan bisa kapan saja merebut nya dari pelukan Ani, namun kasih sayang ibu yang tanpa batas memberi kekuatan lebih bu Asih untuk menghibur Ani yang kelelahan karena kejangnya dengan menggendong mengajak jalan-jalan.

Ditinggal Suami tanpa Kabar Bantu Bu Asih Merawat Ani
terkumpul dari target Rp 150.000.000