
Perut Terus Membesar Penyakit Komplikasi Mengancam Nyawa
terkumpul dari target Rp 50.000.000
"Mah.. maafin Bapak ya, hari ini bapak gak kuat buat jualan badan sudah gak bisa bangun, dan sudah sesak sekali."
"Gak apa-apa Pak, emang mestinya bapak istirahat, apalagi jadwal sedot cairan bapak udah telat 5 hari, hari ini biar mamah yang jualan ya, mudah-mudahan hari ini hasil jualan Mamah banyak jadi bisa nambahin tabungan kita buat berangkat ke Rumah Sakit".
•••
Cuaca mendung pagi itu tak menyurutkan semangat Bu Imas (33) untuk mengais rejeki. Barang dagangan yang Ia peroleh dari kerabat Ia jajakan kembali secara keliling dari kampung ke kampung. Tak banyak rupiah yang dapat Ia himpun, berkisar antara Rp.30.000 sampai Rp. 40.000 saja begitupun jika sedang tidak hujan.
Namun menyerah bukanlah pilihan, semenjak sang Suami Ade Maulana ( 38 ) jatuh sakit sejak 9 tahun lalu, kini profesi sang suami sebagai penjaja makanan kadang Ia ambil Alih, itupun jika sang suami mengijinkan biasanya karena Ia sudah sangat tidak kuat berjualan.
"Suami saya selalu bersikeras untuk keliling berjualan, meski kadang harus sambil menenteng Tabung oksigen, katanya selama masih bisa berjalan mencari nafkah adalah kewajiban suami" ungkap Bu Imas tertunduk menahan tangisnya.
Barulah jika badanya sudah betul-betul drop karena cairan sudah sangat menumpuk hingga perutnya terlihat sangat bengkak, serta kakinya sudah tak sanggup berdiri, pak Ade mengijinkan sang istri untuk berjualan menggantikan dirinya.
Baginya sakit bukanlah alasan untuk tidak berusaha menunaikan kewajibannya mencari nafkah, meskipun kadang akhirnya Ia hanya berjualan di sekitar kampungnya, karena tak mampu berjalan terlalu jauh.
Seperti hari ini, pak Ade terpaksa menyerah tak menjajakan dagangannya, Karana badanya tak mampu lagi untuk bangkit, akibat cairan sudah terlalu menumpuk di perutnya, jadwal untuknya melakukan sedot cairan sudah terlambat hampir satu pekan. Dan kondisi ini sudah sering terulang.
Komplikasi penyakit hati dan jantung menyebabkan kondisi tubuh pak Ade setiap harinya di penuhi oleh cairan yang terus menumpuk dan mengisi seluruh rongga perutnya hingga membuncit. Dan cairan ini harus rutin di keluarkan paling lambat tiga Minggu sekali. Yang jika terlambat bisa membahayakan nyawanya akibat seluruh organ di tubuh pak Ade tertekan oleh cairan, termasuk organ pernafasannya. Belum lagi berbagai komplikasi lainya yang bisa saja terjadi akibat terlambat pengeluaran cairan yang menumpuk di dalam tubuh.
Bukannya tak ingin segera berangkat ke Rumah sakit, namun penghasilan dari berjualan keliling seringkali jauh dari cukup bahkan untuk sekedar makan dan bekal sekolah. Semua harta benda nyaris telah habis pun kerabat dan tetangga telah hampir semua sudah di pinjami uang untuk berobat selama lebih sembilan tahun menjalani pengobatan. Meski kini sudah dibantu BPJS namun jarak rumah sakit yang jauh serta biaya operasional selama opname yang tidak sedikit membuat pak Ade seringkali sangat terlambat untuk melakukan sedot cairan. Padahal setiap menit keterlambatan mendekatkan pa Ade pada kematian.
Insan Baik, jangan biarkan nyawa pak Ade terus terancam karena keterlambatan penanganan dan tindakan medis, mari kita bersamai perjuangannya dalam menjemput kesembuhan dengan doa dan uluran tangan terbaik kita.
Disclaimer:
Donasi yang terkumpul akan di pergunakan untuk pengobatan pak Ade serta modal usaha bagi keluarganya juga kebutuhan mendesak lainya termasuk penunjang kesehatan bagi pak Ade. Sebagian donasi juga akan dipergunakan untuk keberlangsungan program sosial kemanusiaan dan penerima manfaat lainnya di bawah naungan dan pendampingan Amal baik insani.

Perut Terus Membesar Penyakit Komplikasi Mengancam Nyawa
terkumpul dari target Rp 50.000.000