
Tinggal di Hutan Puluhan Tahun Tanpa Penglihatan Normal
terkumpul dari target Rp 100.000.000
Keriput dan matanya yang tak bisa melihat menjadi saksi perjuangan Mbah Paining (66th) berjuang hidupi orang tua yang tak bisa melihat tuk bisa makan dan hidup layak. Tak ada kata istirahat sehari-hari Mbah Paining berkerja serabutan ia pergi hutan untuk mencari ranting kayu yang berjatuhan, Mbah juga menjual Nasi Aking/Karak yang ia beli kemudian dijual lagi dengan dijajakan keliling Desa demi bisa membeli beras.
Mbah Lasemi (84) dan Paining sekarang tinggal di tepi hutan. Rumah tersebut hanyalah gubuk sederhana yang sangat reyot. Bahkan beberapa telah berlubang dan ditambal-tambal.
“Ditambal soalnya takut kalau ada ular masuk,” jelasnya.
Sehari-hari untuk mencukupi kebutuhan hidup, mbah ke hutan untuk mencari ranting kayu untuk dijual dan untuk memasak, beliau masih menggunakan kayu bakar untuk memasak.
"Kayu-kayu ini adalah harapan hidup kami nak, Namun seiring berjalannya waktu tak banyak kayu yang bisa mbah hasilkan"- Ujar Mbah Paining
Saat kayu sudah terkumpul, mbah biasanya tawarkan ke desa yang jaraknya 13 km dari rumahnya. Itupun mbah hanya menawarkan kemudian si pembeli mengambilnya ke rumah mbah. karena mbah tidak mampu untuk membawa kayu yang banyak. Selain itu Mbah juga membawa nasi aking jualannya untuk dijajakan ke rumah-rumah warga.
Teman Berbagi, meski ditengah keterbatasan ini Mbah tidak pernah berputus asa untuk berjuang. Yuk, kita bersama-sama bahu-membahu membantu Mbah Lasemi & Mbah Paining dengan cara :
Klik DONASI SEKARANG

Tinggal di Hutan Puluhan Tahun Tanpa Penglihatan Normal
terkumpul dari target Rp 100.000.000