
Sebatang Kara Mbah Jono Harus Menahan Lapar di Gubuk Kecil
terkumpul dari target Rp 50.000.000
Mbah Jono (68) hidup sebatang kara sejak istrinya meninggal 3 tahun lalu, tak ada yang mengurus, seringkali mbah menahan lapar karena senggengam beras pun tak punya.
Untuk bertahan hidup mbah hanya bisa jadi tukang rongsok.
Dari pagi hingga sore mbah keliling membawa karung besar mengumpulkan barang bekas berharap terkumpul banyak agar hari ini mbah bisa makan.
Tapi sedihnya seringkali mbah cuma dapat sedikit, alhasil uang yang didapat 5rb saja cukup untuk apa?😭
“Kadang saya dapat 5rb sehari, kadang juga dikumpulkan dulu 3 hari baru bisa dapat 10rb" - ujar Mbah Jono.
Uangnya segitu hanya cukup untuk mbah belikan sedikit beras dan sambal saja, gak jarang jika mbah tak punya uang sama sekali, mbah harus menahan lapar, dan mengganjal perutnya dengan air minum.
Yang paling bikin sedih mbah cerita sering ikat perutnya pakai sejadah untuk menahan laparnya😭
Saat ini mbah tinggal di gubuk kecil yang sudah reyot, berlubang dimana-mana dan hanya bisa mbah tambal dengan tikar bekas
Bahkan pintu rumahnya pun pakai pintu bekas kamar mandi pemberian dari tetangganya dan gubuknya ini tak ada MCK, tiap kali mau buang air mbah harus menuju sungai.
Setiap malam mbah kedinginan, kelaparan, belum lagi kalo hujan atap rumahnya bocor.
“Kalau angin kencang dan hujan besar saya takut rumah ini roboh, saya gak punya tempat tinggal lagi” - ucap mbah Jono.
#Pejuangkebaikan, maukah bantu mbah Jono, pencari rongsok di usia senjanya? dengan cara klik DONASI SEKARANG
Disclaimer :
Fundraising ini merupakan bagian dari penggalangan dana Rumah Yatim. Kelebihan donasi yang terhimpun akan disalurkan ke penerima manfaat program-program Rumah Yatim lainnya.
Info Selengkapnya Hubungi :
Admin ( 082127020826 )
Sebatang Kara Mbah Jono Harus Menahan Lapar di Gubuk Kecil
terkumpul dari target Rp 50.000.000