
Langkah Kaki Difabel Menjadi Tangan Penjaga Sang Anak
terkumpul dari target Rp 50.000.000
“Di tubuh renta tanpa tangan itu, tersisa satu hal yang terus dipaksakan: sepasang kaki demi seorang anak kecil.”
Di sudut kampung yang nyaris terlupakan, berdiri sebuah rumah kecil berdinding anyaman bambu, rapuh dimakan usia. Atapnya berlubang di banyak sisi. Setiap kali hujan turun, rumah itu tak lagi menjadi pelindung. Air menetes tanpa ampun ke lantai, ke kasur, ke tubuh renta yang terbaring lemah.
Di sanalah Ibu Euis (61 tahun) menjalani hari-harinya—berpindah dari satu sudut ke sudut lain di rumahnya sendiri, sekadar mencari tempat yang belum basah oleh hujan.


Enam tahun lalu, hidupnya runtuh perlahan. Suaminya pergi tanpa pamit, tanpa alasan, tanpa kabar hingga hari ini. Sejak itu, Ibu Euis menua dalam kesunyian. Namun ia tak pernah benar-benar sendiri. Di pundaknya kini bertumpu tanggung jawab yang jauh lebih besar dari tubuhnya yang rapuh merawat Aisah (6 tahun), yang sepenuhnya bergantung padanya.
Sejak lahir, Ibu Euis tak memiliki kedua tangan. Kekurangan itu bukan sekadar kisah yang mengundang iba, ia adalah kenyataan yang harus ia hadapi setiap hari. Dengan sepasang kakinya, ia memasak, membersihkan rumah, dan melakukan semua pekerjaan rumah tangga. Dengan kaki yang sama pula, ia berjalan berkilo-kilometer setiap hari menjajakan snack dan camilan titipan tetangga, dari pagi hingga sore, menembus terik matahari dan hujan.

Sering kali Aisah ikut menemani. Bocah kecil itu menjadi penyangga tubuh neneknya saat langkahnya goyah, saat keseimbangan hilang, bahkan ketika neneknya terjatuh. Di usia yang begitu belia, Aisah sudah terbiasa melihat lelah, menahan lapar, dan bertahan dalam keadaan serba kekurangan.
Penghasilan Ibu Euis tak pernah pasti. Kadang hanya Rp20–30 ribu sehari. Pernah pula, setelah seharian berkeliling, ia pulang hanya membawa Rp10 ribu. Uang sekecil itu harus cukup untuk makan, kebutuhan harian, dan bertahan hidup esok hari.
“Badan sebenarnya sudah sering terasa sakit, terutama kaki kalau dipakai jalan agak jauh,” tutur Ibu Euis lirih.

Di balik tubuh yang menua dan langkah yang kian melemah, Ibu Euis hanya menyimpan satu harapan sederhana: ia ingin tetap kuat agar bisa terus merawat Aisah. Ia berharap rumah kecil mereka tak lagi bocor saat hujan turun, agar Aisah bisa tidur dengan tenang tanpa harus terbangun oleh tetesan air. Ia juga berharap memiliki usaha kecil di rumah, agar sepasang kakinya tak terus dipaksa berjalan jauh setiap hari, agar tenaga yang tersisa bisa ia jaga untuk merawat Aisah.

Semua harapan itu bukan untuk hidup yang lebih mudah bagi dirinya, melainkan agar seorang anak kecil tak harus tumbuh dalam ketakutan kehilangan satu-satunya sandaran hidupnya.
“Biar saya capek,” ucapnya pelan, “asal Aisah tetap ada yang jaga.”

Namun kini, harapan itu berada di ujung batas. Penghasilan yang tak menentu membuat kebutuhan makan, kesehatan, dan tempat tinggal mereka kerap terancam.
Bayangkan jika suatu hari kaki itu tak lagi mampu melangkah.
Jika Ibu Euis jatuh sakit dan tak bisa berjualan.
Siapa yang akan menjaga Aisah?
Siapa yang akan memastikan ia tetap aman dan terlindungi?
Insan Baik, bantuanmu hari ini bukan sekadar donasi. Ia adalah atap yang melindungi dari hujan.
Ia adalah langkah yang tak lagi dipaksakan. Ia adalah perlindungan bagi seorang anak kecil yang tak punya siapa-siapa selain Bu Euis.
Mari bantu Ibu Euis bertahan. Agar Aisah tetap punya tempat pulang. Agar mereka bisa hidup dengan lebih layak. Agar hari-hari mereka tak lagi sekeras yang selama ini harus dijalani.
Disclaimer : Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk modal usaha, penunjang kebutuhan bu Euis dan Asiah. Juga akan digunakan untuk penerima manfaat lain dan program sosial kemanusiaan lainnya dibawah naungan Amal Baik Insani.
Langkah Kaki Difabel Menjadi Tangan Penjaga Sang Anak
terkumpul dari target Rp 50.000.000
