
Harapan Rumah Layak untuk Mbah Suparjo
terkumpul dari target Rp 50.000.000
“Untung sepuluh ribu sekarang itu susah sekali, Saya pengin banget punya rumah yang layak" ujarnya lirih.
Di usia 75 tahun, Mbah Suparjo masih berjualan cilok keliling. Dengan sepeda tua, beliau menyusuri jalan demi jalan sejak pagi, berharap dagangannya habis terjual.

Sudah 25 tahun Mbah Suparjo menjalani hidup sebagai pedagang cilok. Dua kali Mbah Suparjo pernah tertabrak kendaraan saat berjualan. Sejak kejadian tersebut itu, Mbah lebih sering mendorong sepedanya ketika jalan ramai karena trauma dan takut terjadi hal serupa.
Mbah biasa berjualan sejak pukul 6 pagi hingga siang hari. Tenaganya cepat habis. Pernah satu jam penuh Mbah duduk di pinggir jalan, memijat kakinya yang pegal, tanpa satu pun pembeli datang.

“Untung sepuluh ribu sekarang itu susah sekali,” ucapnya pelan.
Mbah Suparjo tinggal bersama istrinya di rumah yang sangat sempit dan belum pernah direnovasi. Air dan listrik masih menumpang ke tetangga. Saat hujan turun, rumah bocor dan lantainya becek. Mbah kerap khawatir istrinya terpeleset.

Istri Mbah juga sudah lanjut usia dan menderita katarak. Satu matanya tidak bisa melihat. Setiap bulan, mereka harus membeli obat agar tetap bisa beraktivitas, meski untuk makan pun sering kali masih kekurangan.
Namun di tengah keterbatasan, Mbah Suparjo tetap berbagi. Ia sering memberikan cilok gratis kepada anak-anak di sekitar rumahnya.

“Biar anak-anak senang, ini jalan sedekah saya,” katanya.Mbah Suparjo tidak meminta banyak. Ia hanya ingin hidup lebih layak di masa tua memiliki rumah yang aman dan tidak lagi mengayuh sepeda tua di usia senja.
✨ Mari bersama menghadirkan harapan untuk Mbah Suparjo.
✨ Sedekahmu hari ini, berarti besar bagi kehidupan mereka.
Harapan Rumah Layak untuk Mbah Suparjo
terkumpul dari target Rp 50.000.000
