
BANTU IBU KURNIASIH MERAIH CITA-CITA ANAK-ANAKNYA
terkumpul dari target Rp 50.000.000
Ibu Kurniasih, seorang ibu tangguh yang membesarkan tiga anaknya seorang diri setelah suaminya meninggal akibat stroke, berjuang keras menghidupi keluarga meski kondisi kesehatannya rentan. Anak sulungnya, Halimah, yang buta sejak lahir, adalah sumber kekuatan sekaligus tantangan besar baginya. Dengan keterbatasan yang ada, Bu Kurniasih tetap bertekad memberikan kehidupan terbaik bagi anak-anaknya. 6 tahun yang lalu Bu Kurniasih pernah menderita kanker payudara yang menyebabkan harus diangkat salah satu payudaranya, nahas ketika masa pemulihan pasca operasi suami nya terkena serangan stroke, sejak saat itulah suaminya tidak bisa bekerja, sehingga kehidupan mereka menjadi semakin sulit.
“Pengen nya sih saya bisa terus sehat …kalau saya sakit nanti siapa yang ngurus anak-anak saya ?!”
Meski hidupnya penuh dengan rintangan, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk ketiga anaknya.
yaitu Halimah yang berusia 17 tahun ( SMA kelas 3 ), Syukur yang berusia 15 tahun ( SMP kelas 3 ), dan Nur Kamila yang berusia 11 tahun ( SD kelas 5 ) adalah sumber kebahagiaannya.
Setiap pagi Bu Kurniasih harus mengantarkan ke tiga anaknya ke sekolah, padahal arah nya berbeda-beda, namun langkah ini beliau tempuh karena jika harus bayar ongkos Ojek atau angkot uang dari mana.
Namun, yang paling berat baginya adalah merawat Halimah, anak sulungnya. Halimah sejak lahir menderita kebutaan, dan meskipun sudah berusaha menjalani kehidupan normal seperti anak-anak lain, tetap saja tidak mudah baginya. Suami Bu Kurniasih dulu sempat tidak terima dengan keadaan Halimah yang sepeti itu, Suami dan keluarga nya selalu menyalahkan Bu Kurniasih karena punya anak seperti Halimah.
Halimah yang saat ini sekolah di salah satu SLB di Cirebon lahir premature karena saat hamil usia 6 bulan ibu Kurniasih menderita Eklampsia dengan tensi darah 220 yang berbahaya baik bagi ibu ataupun janin. Ketika lahir Halimah mengalami kelainan pada syaraf matanya, usia 4 bulan pernah di bawa ke RS Mata Cicendo Bandung bahkan sampai dibawa ke Eye Center Jakarta. Namun halimah tetap tidak bisa disembuhkan bahkan jika ada yang donor mata pun tetap tidak akan bisa melihat.
‘iiiihhhh halimah buta yaaa’ itulah kata-kata yang diucapkan teman-temannya Halimah, yang membuat Halimah sedih dan mengadukan nya ke Ibu. Dan yang paling membuat ibu Kurniasih sedih adalah ketika ada orang yang mengatakan bahwa dirinya hanya pura-pura saja sayang terhadap Halimah yang buta. Hal itu karena Halimah yang selalu memberikan semua uang yang ia dapat kepada ibunya jika ada yang meminta jasa Halimah Baca Al-Quran di Acara-acara keagamaan. Padahal itupun belum tentu sebulan sekali dan paling besar juga dapatnya Cuma Rp. 100.000 sekali dapat panggilan.
Meskipun kondisi buta, Halimah memiliki kemampuan yang luar biasa, Halimah mampu melantunkan Ayat Ayat suci Al-Quran dengan sangat baik. Berbekal suara merdu khas orang timur, Halimah sering mengikuti perlombaan MTQ antar sekolah SLB, bahkan mendapatkan juara 1 tingkat Kabupaten dan juara 5 tingkat Provinsi.
Uang yang tidak seberapa yang Halimah dapat dari acara-acara tersebut selalu diberikan semuanya kepada ibunya, hal ini lah yang membuat ada saja orang yang mengatakan ibu Kurniasih memanfaatkan Halimah. Padahal uang tersebut digunakan untuk kebutuhan mereka sehari hari karna satu satunya tulang punggung keluarga sudah tiada. Di sisi lain Bu Kurniasih yang merupakan penyintas kanker payudara harus rutin minum obat dan tidak bisa melakukan aktivitas berat. Ditambah lagi kini Bu Kurniasih sering menderita penyakit Diabetes, dan jika sedang kambuh, terpaksa Halimah libur sekolah karena tidak ada yang mengantar.
“kalau ada uang mah maunya kuliah, Halimah mau jadi Guru “
Untuk sekedar memenuhi kebutuhan keluarga, Bu Kurniasih membuka warung kecil di teras rumahnya, paling besar Omzet yang didapat Bu Kurniasih adalah Rp. 100.000, bahkan kadang cuma Rp. 20.000. Uang yang didapat paling hanya cukup untuk makan, bahkan modal yang harusnya digunakan untuk belanja kebutuhan warung pun terpakai untuk kebutuhan sehari hari. Bu kurniasih memutar otak nya bagaimana caranya agar mendapatkan uang tambahan.
Demi memenuhi kebutuhan hidup, Bu Kurniasih rela berpanas-panasan di jalan menjadi tukang Ojek. Ada tetangga yang baik hati meminta Bu Kurniasih mengantarkan nya ke tempat kerja setiap hari, dan kemudian menjemput di sore harinya. Dari hasil jadi tukang ojek ini Bu Kurniasih menerima bayaran sebesar Rp. 70.000 dalam 1 minggu, itupun jika full.
SahabatKU… Perjuangan Bu Kurniasih tidak mudah, tetapi dukungan Anda bisa menjadi titik terang bagi keluarganya. Dengan bantuan modal usaha, warung kecil di rumahnya bisa berkembang, memberikan sumber penghasilan yang lebih stabil untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan pendidikan anak-anaknya. Setiap donasi adalah bagian dari semangat gotong royong untuk meringankan beban dan membuka harapan baru bagi keluarga ini menuju masa depan yang lebih baik.

BANTU IBU KURNIASIH MERAIH CITA-CITA ANAK-ANAKNYA
terkumpul dari target Rp 50.000.000