
Bantu Pasangan Tanpa Kaki Tangan tuk Sambung Hidup
terkumpul dari target Rp 75.000.000
Ayah kehilangan kaki, ibu tanpa tangan… kini mereka harus kehilangan anak mereka yang baru 1minggu lahir karena lahir tak memiliki lubang anus dan ginjalnya hanya satu.

Uwes (38) tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat itu. Dua belas tahun lalu, saat bekerja sebagai kuli bangunan, tubuhnya dihantam besi crane raksasa. Tulang kakinya remuk, darah bercucuran, dan dalam sekejap… dunia Uwes runtuh.
“Kedua kaki harus diamputasi. Kalau tidak, nyawanya tak bisa diselamatkan.” Begitu kata dokter.

Sejak hari itu, Uwes kehilangan pijakan—bukan hanya pada tanah, tapi juga pada hidupnya. Orang tua telah tiada. Hari-harinya dipenuhi rasa sakit, malu, dan kesepian. Namun Uwes memilih bertahan. Meski sering dipandang hina, ia berusaha mencari arti hidup kembali. Dengan tangan yang gemetar, ia belajar mengukir bambu. Dari situlah sedikit harapan muncul—meski hasilnya hanya lima ribuan, kadang tak laku sama sekali.
Di tengah getirnya hidup, Tuhan mempertemukannya dengan Sri. Seorang wanita yatim piatu, tanpa kaki, hanya punya satu tangan. Dua jiwa yang sama-sama terluka, saling menemukan. “Bertemu Sri rasanya seperti menemukan rumah,” ucap Uwes dengan mata berkaca-kaca.

Maret 2024, mereka menikah. Hidup sederhana, seadanya. Setiap hari mengukir bambu dengan alat pinjaman, menunggu pembeli yang sering tak kunjung datang. Penghasilan mereka? Hanya sekitar tiga puluh ribu sehari. Kalau tak punya ongkos pulang, mereka rela ngesot sejauh satu jam hingga sampai di tempat tinggal seadanya.
Namun cobaan seolah tak ada habisnya.
Sri kini mengandung. Bahagia bercampur cemas, karena dokter berkata janinnya mengalami kelainan saluran kencing. Malam-malam Sri dipenuhi tangisan. “Bagaimana kalau tubuh anakku tak sempurna?”

Uwes pun tak kuasa menahan air mata. “Ya Allah, jangan biarkan anakku menanggung derita seperti kami…”.

Mirisnya, untuk makan saja mereka kerap kesulitan. Penghasilan dari ukiran bambu hanya sekitar 30 ribu sehari—kadang tak ada pembeli sama sekali. Bagaimana bisa menyiapkan biaya kontrol, obat, dan persalinan yang terus mendesak?
Saat lahir bayi uwessri harus lahir menggunakan metode caesar karena dokter menyatakan ibu sri tak bisa melahirkan anaknya dengan normal dikarenakan kondisi tubuhnya yang memiliki keterbatasan sehingga tak bisa melahirkan anaknya dengan normal. Saat melahirkan sri dan bayi selamat namun keadaan bayi yang harus di pisahkan di ruang NICU karena bayi mengidap Hisprung disasae (tak memiliki lubang anus) akhirnya bayi langsung di tidak operasi atas persetujuan uwes dan sri karena mau gimana lagi uwes dan sri hanya bisa berdoa akan putra kelahiranya. Sangat dilematis disaat ibu sri dibolehkan pulang dari rumah sakit namun Bayi uwes dan sri harus tetap di rumah sakit karena kondisinya kritis paska operasi pembuatan lubang anus di perut. Bayi uwes dan sri hanya bertahan 1 minggu dan tak bisa di tolong oleh tim Rumah sakit dan meninggal di rumah sakit.

Uwes dan sri berharap mempunyai usaha sendiri seperti warung sembako di depan rumahnya dan karena keterbatasanya uwes dan sri ingin berjualan pulsa, token listrik dan voucher kuota karena itu usaha yang mempermudah mereka sebagai disabilitas.
Bantu Pasangan Tanpa Kaki Tangan tuk Sambung Hidup
terkumpul dari target Rp 75.000.000
