
Operasi Ditunda Bayi Petani Terancam Infeksi Usus
terkumpul dari target Rp 70.000.000
Setelah operasi pertama, orang tua Qosim tidak mampu membiayai operasi lanjutan. Mereka membiarkan Qosim tanpa anus sampai perutnya mulai infeksi.
Sejak lahir, Qosim (10 bulan) langsung merasakan operasi pertamanya. Dia tidak bisa menangis, perutnya kembung, wajah pucat dan muntahnya berwarna hijau. Bayi mungil itu harus segera operasi karena tidak memiliki anus.
Sejak hari itu sampai 6 bulan berlalu, tangisnya tak pernah berhenti. Qosim selalu kesakitan setiap BAB lewat lubang di perutnya.
“Seharusnya masih ada operasi lanjutan setelah pembuatan lubang sementara di perut pertama kali itu, mbak. Tapi karena biayanya mahal, Qosim belum dioperasi..sekarang perutnya sudah infeksi”, ucap Ibu Siti dengan raut wajah bersalah.
Jangankan operasi, kantong kolostomi pun tidak pernah terbeli sehingga Qosim hanya bisa memakai underpad yang dilubangi dan ditutup plastik untuk menampung kotorannya. Dalam satu hari, kantongnya diganti sampai 10 kali.
Ayah Qosim, Pak Wasis baru bisa bekerja jika ada yang membutuhkan jasanya. Upahnya sebagai buruh tani serabutan tidak menentu. Meski buah hatinya memiliki BPJS, namun banyak penunjang pengobatan hingga susu khusus dan tidak tercover dan harus menggunakan upah Pak Wasis yang tidak seberapa itu.
#TemanBerbagi, jika terus mengulur waktu, Qosim bisa saja mengalami infeksi usus.
Sampai kapan dia harus bertahan dalam penderitaan ini? Mari bersama berikan dukungan kepada Qosim dengan cara Klik tombol “DONASI SEKARANG”

Operasi Ditunda Bayi Petani Terancam Infeksi Usus
terkumpul dari target Rp 70.000.000