
Harapan dan Duka Pengungsi Lewotobi di Perayaan Natal
terkumpul dari target Rp 200.000.000
Harapan dan Duka Pengungsi Lewotobi di Perayaan Natal
Tanpa pohon Natal dan hiasan meriah, para pengungsi Erupsi Gunung Lewotobi tetap menyusun doa dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Menghadapi Natal tahun 2024 ini mereka harus mengalami duka dan terpaksa merayakannya di pengungsian. Abu vulkanik akibat lahar panas dari gunung menghancurkan rumah dan lahan tandus. Sebelum bencana terjadi, warga setempat sudah bersiap untuk menyambut Natal. Seperti yang terjadi pada Romo Ben Koban, salah satu pengungsi yang mengungsi bersama keluarganya.
Setiap tahun beliau merayakan Natal dengan penuh suka cita di rumah yang sederhana dengan mengundang tetangga dan saudara untuk berbagi kebahagiaan. Namun kini mereka harus meninggalkan rumah dan mencari perlindungan di pengungsian. Anak-anak kecil pun bertanya-tanya, kapan mereka bisa kembali ke rumah dan merayakan Natal seperti sebelumnya.
“Meskipun dalam situasi bencana alam yang menakutkan, tapi situasi rohani dan Natal masih bisa dirasakan dengan penuh persaudaraan dan kekeluargaan di pengungsian”, ujar Romo Ben.
Sambil menatap langit, Romo Ben dan pengungsi lain berharap agar bencana ini segera berlalu. Dia tahu bahwa dimana ada kebersamaan, disitu ada harapan.
“Tuhan Yesus Kristus, Raja semesta alam yang merajai hati, pikiran dan kehidupan manusia. Maka kita harus meniru dengan ajaran kasih, meski dalam situasi bencana alam, tapi Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya,” lanjutnya.
Kini pengungsi Lewotobi hidup dalam penuh duka dan kesulitan, mereka masih butuh bantuan untuk bangkit dan penuhi kebutuhan makanan, fasilitas pengungsian, air bersih, dan kesehatan.
Yuk gotong royong kita bantu pengungsi di Lewotobi dan berikan hadiah terbaik untuk mereka di Natal tahun ini.

Harapan dan Duka Pengungsi Lewotobi di Perayaan Natal
terkumpul dari target Rp 200.000.000