
Derita Pilu Pak Ponijo Difabel Jual Koran Tuk Sekolah
terkumpul dari target Rp 100.000.000
"Saya harus bekerja keras walau keadaan begini demi kebutuhan makan sehari-hari dan untuk menyekolahkan anak saya"
Dibawah terik panasnya matahari. Pak Ponijo berjuang jualan koran keliling Dengan kaki dan tangannya yang cacat sambil menggunakan Kursi Roda. Terlahir memiliki dua kaki dan tangan yang cacat, Pak ponijo tak kenal lelah untuk mencari nafkah dan menyekolahkan anaknya.
Dengan koran-koran dagangannya yang ia beli dari tetangganya.Pak Ponijo di lampu merah perempatan jalan raya.
Beliau saat memulai jualan koran pun tidak ada modal dan yang akhirnya dibantu sesama penjual koran untuk modal awal jualannya
Saat ini anaknya bersekolah di salah satu sekolah swasta di kota Bantul, waktu itu juga banyak yang menghina dan bertanya "mampu bayar?" Hati pak Ponijo sangat sedih ia bener-bener dipandang sebelah mata sama orang.
Padahal ia berjuang bekerja mencari uang yang halal bahkan mengemis pun ia nggak mau.. Tapi sering kali ia di usir sama orang karena dikira pengemis.
Pak ponijo juga cerita ia sering menahan lapar hanya minum air putih dari pagi sampai malam hanya untuk memenuhi hidup anaknya.
Saat jualan koran pun itu sering kena serempet kendaraan karena pengendara jalan yang tidak sengaja terkena kursi roda pak ponijo. pernah diludahi org pengguna jalan karena menganggap dia jualan koran hanya tameng supaya orang mengasihani beliau.
Untungnya dari jualan koran perbiji cuma 2000 perak. Sehari bisa mendapatkan paling banyak 20 ribu.
Namun, kebutuhan masyarakat akan koran kertas semakin menurun karena digitalisasi media massa. Kadang-kadang, dagangannya hanya laku sedikit bahkan hanya lima koran saja yang terjual, membuatnya sedih dan bingung.
Tapi beliau berkata "Saya lebih baik begini, kerja daripada saya harus mengemis minta-minta"

Derita Pilu Pak Ponijo Difabel Jual Koran Tuk Sekolah
terkumpul dari target Rp 100.000.000