
SD Legok Pego
Di sebuah desa, sekolah tidak lagi menjadi tempat menarik bagi anak-anak, bukan karena mereka tidak mau belajar, tapi sejak awal mereka tidak pernah diberi ruang yang benar-benar menginspirasi untuk percaya bahwa masa depan bisa dimulai dari sana.

Salah satu potret tersebut ditemukan di SD Legok Pego, Desa drawati, Kec. Paseh, Kab. Bandng. Fasilitas yang terbatas, serta kehadiran guru yang tidak selalu utuh perlahan membentuk cara pandang terhadap pendidikan, seolah sekolah hanya ruang singgah, bukan tempat untuk menaruh harapan. Solusi dari masalah di SD Legok Pego, kami berusaha memberikan penunjang fasilitas untuk media belajar.
Saung Baca: Ruang Kecil untuk Harapan Besar

Masalah pendidikan di desa tidak selalu berakar pada rendahnya minat belajar anak. Dalam banyak kasus, persoalannya justru terletak pada tidak tersedianya ruang belajar yang layak dan mampu menumbuhkan kedekatan anak dengan buku sejak dini. Ketika sekolah tidak memiliki ruang baca yang nyaman, menarik, dan mudah diakses, aktivitas membaca kerap dianggap sebagai kewajiban semata, bukan kebutuhan atau kesenangan.
Data nasional menunjukkan bahwa kemampuan literasi dasar anak Indonesia masih menghadapi tantangan serius, terutama di wilayah dengan keterbatasan fasilitas pendidikan. Kondisi ini diperparah oleh kenyataan bahwa banyak sekolah dasar di daerah belum memiliki ruang baca yang memadai sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran. Akibatnya, anak-anak tumbuh dalam lingkungan belajar yang minim stimulasi, sehingga kemampuan membaca, memahami, dan bernalar berkembang secara tidak optimal.

Sekolah yang layak bukan kemewahan, tetapi kebutuhan. Dukung pembangunan Saung Baca sebagai ruang literasi anak desa, agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, membaca, dan bermimpi tentang masa depannya.
