
Tumor Mulut Mengancam Nyawa Abdul
terkumpul dari target Rp 67.500.800
"Saya sudah bingung dan sedih saat anak saya semalaman tidak tidur dan ketika makan iai selalu menangis menahan sakit. Tak tega namun mau gimana lagi, saya ingin Abdul sembuh dan bisa segera pulang ke rumah" - lirih Pak Karwan
Abdul Saepulloh (2,5th) adalah anak bungsu dari pasangan Pak Karwan dan Bu Yati kini bergantung hidup dari obat yang diberikan dokter.
Dalam jangka waktu yang singkat semakin hari Tumor Ganas di Mulut bocah mungil ini semakin membesar hingga gusi dan lidahnya terlihat keluar menyumpal seluruh mulutnya.
Awalnya, 3 Bulan yang lalu tiba-tiba mulut abdul terasa perih dan sakit semakin hari semakin gusi dari dalam mulutnya semakin membesar sehingga sampai semalaman nangis tidak bisa tidur karena sakit menahun dan bengkak.
Setelah di periksa oleh dokter dari hasil CT Scan ternyata Abdul divonis dokter menderita tumor ganas di mulutnya.
Mendengar kabar itu bagi orangtua Abdul seakaan dunia tiba-tiba gelap, langit runtuh, tanah seperti ditelan bumi.
Setelah itu Abdul mulai melakukan pengobatan lebih lanjut di RSCM Jakarta karena di anggap penyakitnya yang kronis dan membahayakan nyawa, hingga Pak Karwan rela ngontrak di Jakarta demi pengobatan sang anak.
Saat ini Abdul tidak bisa makan melalui mulut karena terhalang penyakit yang ia derita, asupan makanan terpaksa melalui selang yang disambungkan ke dalam hidung Abdul untuk bertahan hidup.
Satu-satunya jalan agar Abdul bisa bertahan adalah dengan mengikuti arahan dan pengawasan dokter melalui Operasi untuk pengangakatan tumor ganasnya dan pengobatan secara intensif.
Disaat kondisi Jagoan Mungilnya sedang menjalani kemoterapi di RSCM dan membutuhkan biaya perawatan yang cukup besar, Pak Karwan (Ayah Abdul) harus berhenti jadi pedagang Gado-Gado karena modal dagangan habis terpakai untuk pengobatan Abdul di Jakarta.
Biaya pengobatan dan kebutuhannya bisa sampai puluhan juta hampir mustahil dipenuhi oleh ayah sebagai penjual Gado-Gado Grobakan dan ibunya yang bekerja sebagai buruh serabutan yang penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.
Begitu lamanya pengobatan Abdul berdampak semakin sulit Ayah dan Ibunya untuk mencari nafkah karena harus mendampingi pengobatan 24 jam akibat penyakit yang semakin mengganas, sedangkan ke 2 kakakputri yang masih sekolah terpaksa ditinggal di kuningan diurus oleh nenek dan pamannya.
Di sisi lain, jaminan kesehatan Abdul, tak bisa mengcover seluruh biaya pengobatan yang sangat besar biayanya.
“Harapan saya hanya satu semoga Allah memberikan Keajaiban seketika untuk kesembuhan Abdul, Saya sudah bingung Mas, Uang bekal sudah habis. Sedangkan saya tidak tau entah berapa lama lagi Abdul harus di rawat. Utang dimana-mana bekas kemarin berangkat kesini saja sudah habis 15juta. Belum lagi utang ke bank bekas modal usaha kemarin. Saya benar-benar nyerah mas” ungkap Pak Karwan berurai air mata
Sangat berat perjuangan Pak Karwan dan Bu Yati sampai ia ungkapkan melalui tetesan air mata yang tak terbendung. ia sudah mencoba pinjam uang sana-sini demi membawa sang buah hati untuk berobat bahkan untuk operasi tapi upaya tersebut masih sangat kurang.
#TemanBerbagi, kalau ada rezeki lebih, maukah kalian bantu pengobatan Abdul?

Tumor Mulut Mengancam Nyawa Abdul
terkumpul dari target Rp 67.500.800