
Kanker dan Tumor Gerogoti Wajah Supardjo
terkumpul dari target Rp 100.000.000
Diejek, dijauhi, dan diusir sudah sering Abah Ajo rasakan selama hidupnya. Jangankan mendekat, setiap melihat Abah Ajo dari kejauhan, Abah sudah diusir pergi. Padahal, Abah hanya ingin mengumpulkan barang-barang rongsokan yang menjadi modalnya bertahan hidup dan bisa berobat hingga sembuh dari sakit kulit langkanya.
Dengan kondisi Abah Ajo (60) yang menderita kelainan kulit langka hingga munculkan banyak benjolan di tubuhnya, bukan perkara mudah bagi Abah untuk bisa bertahan hidup. Beliau seringkali diejek, dijauhi, bahkan diusir oleh orang-orang yang melihat Abah dari kejauhan.
Rasa gatal, panas, dan perih terus dirasakan Abah Ajo setiap detiknya. Benjolan-benjolan yang ada di tubuhnya terus tumbuh, membesar, dan semakin banyak hingga perlahan-lahan membuat kulitnya mengeras seperti batu.
Belum lagi kalau ada benjolan yang pecah, rasanya sungguh menyiksa sekali bagi Abah. Selain sakit, benjolan yang pecah itu bisa menyebabkan infeksi dan bau tidak sedap. Ditambah, benjolan yang pecah itu bisa menjadi pemicu benjolan-benjolan lain untuk tumbuh di tubuh beliau.
“Kalau disentuh, benjolannya sakit sekali. Apalagi yang besar… Kadang kalau kerasa gatal, saya reflek untuk menggaruknya dan pecah hingga berdarah dan berbau tidak sedap…”, cerita Abah.
Dulu, bertahun-tahun yang lalu Abah sempat memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Dokter yang memeriksa Abah mengatakan kalau kelainan kulit Abah harus ditangani secepatnya melalui rangkaian operasi panjang. Sayangnya, jaminan kesehatan Abah sudah lama tidak aktif karena tidak memiliki biaya untuk membayar tiap bulannya. Abah pun belum bisa menjalani pengobatan apapun.
Untuk bertahan hidup saja, Abah hanya mengandalkan tubuhnya sebagai pencari rongsok. Abah menjual rongsok-rongsoknya setiap seminggu sekali. Hasilnya tak banyak, hanya cukup untuk menghidupi Abah dan anaknya dalam seminggu. Bahkan kadang kurang.
“Dokter bilang penyakit saya ini harus segera dioperasi. Karena kalau satu pecah, bisa menjadi pemicu untuk tumbuhnya puluhan benjolan lainnya. Tapi gimana, saya cuma tukang rongsok. Hasil rongsok saya bahkan nggak cukup buat beli makan…”
Selain harus berjuang untuk bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya, Abah Ajo juga dihadapkan dengan tagihan kos-kosan yang terus menunggak. Sampai saat ini, Abah sudah menunggak membayar kamar kos selama 2 bulan. Jika bulan depan tidak ada pembayaran, Abah terancam diusir oleh pemilik kos.
“Kamar kos ini sudah yang paling murah. Tapi saya masih belum bisa membayarnya selama 2 bulan. Saya nggak tahu harus kemana lagi kalau sampai diusir dari sini…”
Dengan usianya yang semakin renta, Abah Ajo harus menghadapi cobaan yang begitu berat. Beliau harus menahan sakit di tubuhnya, menahan rasa lapar, bahkan sampai harus menahan malu karena sering diejek dan diusir oleh warga.
***
#OrangBaik, mau nggak sama-sama kita bantu Abah Ajo agar bisa berobat hingga sembuh, dan bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak lagi? Yuk kita temani Abah terus berjuang, dengan cara:
-
Klik tombol “Donasi sekarang!”.
-
Masukkan Nominal Donasi.
-
Pilih metode pembayaran (Dompet Kebaikan/GO-PAY/DANA/Shopee Pay/LinkAja/Jenius Pay/BCA/BNI/BNI Syariah/BRI/Mandiri/Mandiri Syariah/Kartu Kredit).
-
Dapatkan laporan melalui email.
Terima kasih, #OrangBaik!

Kanker dan Tumor Gerogoti Wajah Supardjo
terkumpul dari target Rp 100.000.000