
Mengayuh Sunyi: Perjuangan Pak Azis, Penjual Puding Tunarungu
terkumpul dari target Rp 50.000.000
Di sela-sela deretan gerobak penjual takjil, terparkir sebuah sepeda dengan setumpuk puding di atasnya. Warna oranye dan cokelat puding terlihat unik, tetapi ada sesuatu yang lebih menarik, yaitu cara penjual puding mengucapkan terima kasih melalui gestur anggukan dan tangan yang mengatup kepada pelanggan.

Rasa penasaran itu tidak berlangsung lama; saat semakin mendekat, terlihat selembar kardus sederhana bertuliskan, “Maaf tunarungu, puding Rp2.500”.
Itu merupakan satu-satunya cara Pak Azis (58) “berbicara” pada pembeli. Ia tunarungu dan sulit bicara, tapi tak pernah berhenti berkeliling menjual puding sejauh belasan kilometer selama dua tahun.

Setiap hari, dari pagi sampai sore, ia mengayuh sepeda sambil membawa sekitar 200 cup puding dengan berat yang hampir mencapai 30 kilogram. Saat melewat jalan menanjak, beban tersebut pernah membuat Pak Azis terjatuh sebanyak dua kali.
Beruntung, puding manis asli buatan sang istri yang juga tunarungu tidak hancur. Meski begitu, tak jarang puding kembali dibawa pulang atau Pak Azis harus berdiri berjam-jam hingga tiba pembeli.
“Sabar..’’ Pak Azis mengusap dadanya.
“Sholat...” perlahan memperagakkan Takbiratul Ihram.
“Ada Allah.” wajahnya menengadah ke langit.

Bahasa tubuh Pak Azis, sedang ,menjelaskan cara bertahan hidup yang sesungguhnya. Padahal ia tidak bisa mendengar panggilan Adzan yang menggema atau lantunan yang menandai waktu. Namun, sunyi itu tak pernah memutus hubungannya dengan Allah. Jika tidak melalui posisi matahari maka ia akan menanyakan jadwal sholat kepada orang sekitar. Sunyi menutup telinganya, tetapi tak pernah menutup arah sujudnya.
Mungkin kita tak bisa menghapus sunyi yang ia dengar, tetapi kita bisa meringankan jalannya. Dengan motor atau alat bantu dengar, Pak Azis bisa terus berjuang dengan lebih aman dan manusiawi.
Mengayuh Sunyi: Perjuangan Pak Azis, Penjual Puding Tunarungu
terkumpul dari target Rp 50.000.000
