
Menyusuri Jalanan dengan Kopi untuk Hidup yang Layak
terkumpul dari target Rp 20.000.000
Di Usia 71 tahun, Abah Endang masih berjuang mencari nafkah dengan berjualan kopi seduh keliling. Setiap hari, dari pagi hingga sore, ia menawarkan kopi dan minuman seadanya kepada para pelanggan. Sebelumnya, Abah bekerja sebagai buruh kuli bangunan, namun seiring bertambahnya usia, ia tidak lagi mampu melakukan pekerjaan tersebut.
Abah mengungkapkan bahwa keterbatasan modal menjadi kendala utama dalam usahanya. "Ini mah seadanya aja nak, soalnya Abah kurang modalnya. Tapi kalau ga jualan Abah sama istri bisa makan dri mana?" katanya. Setiap hari, Abah menempuh puluhan kilometer dengan berjalan kaki, namun hasil yang diperoleh masih minim.
Pendapatan harian Abah hanya berkisar antara 10 hingga 15 ribu rupiah, yang hanya cukup untuk membeli beras dan lauk pauk sederhana. Terkadang, Abah dan istrinya hanya bisa makan dengan nasi saja. Dengan kondisi fisiknya yang sudah renta, Abah sering merasakan sakit pada kakinya, sehingga ia kerap beristirahat sejenak di pinggir jalan untuk meredakan rasa sakit tersebut.
Meskipun menghadapi berbagai keterbatasan, Abah tetap semangat berjualan demi memenuhi kebutuhan hidup bersama istrinya. Ia berharap suatu hari nanti dapat menambah variasi kopi dan minuman yang dijualnya agar bisa mendapatkan keuntungan lebih. "Kalau ada modal, Abah pengen bisa nambah kopi dan minumannya a, biar laku dan menarik" harapnya.
Kisah Abah Endang menggambarkan perjuangan seorang lansia yang tetap gigih mencari nafkah meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan. Semangatnya menjadi inspirasi bagi kita semua untuk tidak menyerah dalam menghadapi kesulitan hidup.
#TemanBerbagi, di usianya yang kini sudah menginjak 71 tahun, Abah Endang belum bisa merasakan kesejahteraan dalam hidupnya. Jika ada modal Abah ingin sekali bisa menambah variasi kopi dan minuman lainnya agar beliau bisa bisa dapat keuntungan yang lebih layak lagi

Menyusuri Jalanan dengan Kopi untuk Hidup yang Layak
terkumpul dari target Rp 20.000.000